Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Tuesday, June 4, 2024

,

Anak Tambua Nagari Pagadih, dari Gelanggang ke Gelanggang


(Syahrul R/2020)

Langit terlihat cerah malam itu, sejumlah bintang timbul tenggelam di balik awan tipis yang bergerak pelan. Kerlip bintang begitu kentara dalam pekat malam, bohlam lampu lima watt bercahaya redup di teras-teras rumah. Dari kejauhan, dentuman gendang kulit bertalu-talu memecah sunyi.

 

Sebuah rumah di Jorong Pagadih Mudiak Nagari Pagadih Kecamatan Palupuah Kabupaten Agam Sumatera Barat malam itu begitu ramai. Puluhan pasang mata tertuju pada sejumlah anak yang asik menabuh tambua (alat musik tradisional Minang berupa gendang dari kulit). Dentuman gendang itu semarak di tengah tingkah tasa yang pukul menggunakan sepasang rotan.

 

Siang sebelumnya, sebuah pesta pernikahan baru dilangsungkan di rumah tersebut. Arak-arakan pengantin di jalanan kampung berbatu disemarakkan oleh Anak Tambua (pemain musik tambua). Seolah tidak puas sekedar ditemani dalam arak-arakan, malam itu Anak Tambua kembali unjuk kebolehan, dalam ritme yang mereka ciptakan sendiri, anak-anak usia sekolah itu pun ikut hanyut dalam alunan perkusi.

 

Sudah hampir tengah malam ketika dentuman terakhir bergema di langit Pagadih. Penonton bertepuk tangan, senyum sumringah terpancar dari wajah-wajah muda itu ketika mereka perlahan menurunkan tambua dari gendongan. Setelah menyantap hidangan yang disediakan tuan rumah, mereka bersiap kembali ke rumah masing-masing, esok masih ada alek (pesta) yang harus dimeriahkan.

 

"Stick tambua jangan sampai hilang!" Madrid, pria 27 tahun yang menjadi pelatih tambua kembali memperingati mereka, pasalnya, pada Sabtu 26 Desember 2020, masih ada pesta pernikahan lain yang harus dimeriahkan.

 

Esoknya, matahari sudah naik sepenggalah, hawa dingin perkampungan yang ada di belantara Bukit Barisan masih terasa di permukaan kulit. Api unggun kecil dihidupkan di halaman sebuah rumah, tidak jauh dari bangunan serba guna tempat alat-alat musik itu disimpan. Bukan manusia, unggun kecil itu dikelilingi sejumlah tambua yang pada malam sebelumnya ditabuh tanpa ampun.

 

Bukan tanpa sebab, kulit binatang yang menjadi sumber bunyi pada alat musik pukul itu perlu dipanaskan untuk kembali memiliki suara nyaring ketika ditabuh. Udara dingin dan lembab di daerah itu membuat kulit pada tambua jadi melempem. Sehingga menyangai dengan api menjadi salah satu pilihan untuk membuatnya kembali tegang dan bersuara nyaring.

 

Tidak kurang dari sepuluh orang anak sudah berkumpul pagi itu, mereka berebut memilih setelan yang akan digunakan untuk tampil. Sarawa Galembong, baju hitam, destar, serta ikat pinggang dari kain songket berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Setelah berpakaian, mereka mulai bertolak menuju rumah tempat anak daro jo marapulai (pengantin) diarak pagi itu.

 

Sebuah pesta pernikahan kembali semarak dengan iringan musik tradisional tambua. Sebelum berhenti, sebuah pertunjukan singkat pun ditampilkan, Azis, bocah kelas tiga sekolah dasar ikut unjuk kebolehan. Tangan kecilnya mahir mengayunkan stick ke permukaan tambua, sementara tubuhnya hanya dua kali tinggi tambua. Tingkah tasa, alunan pupuik sarunai (serunai) dan juga melodi talempong pacik menggema di perkampungan.

 

Tidak sampai di situ, esoknya adalah pertunjukan terakhir mereka di tahun 2020. Bukan lagi pesta perkawinan, alek yang lebih besar menunggu mereka, yakni perayaan khatam al-Quran. Salah satu perayaan besar dalam skala nagari di Minangkabau.

 

Minggu pagi di penghujung Bulan Desember, tambua kembali bertalu-talu di Nagari Pagadih. Arak-arakan menempuh jalanan berbatu, ratusan pasang mata tertuju pada barisan peserta khatam al-Quran yang kerap disebut angku haji serta anak tambua yang berada di barisan belakang. Sebelum berhenti, sebuah pertunjukan singkat kembali dipertontonkan, terik matahari tidak mengurangi semangat para anak tambua menyuguhkan hiburan kepada masyarakat yang berdiri mengelilingi mereka.

 

Sanggar Seni Sarasah Maimbau saat mengiringi perayaan khatam Al-Quran (Syahrul R/2020)

 

Membangkitkan Kesenian Tradisi

 

Belum lama ketika Madrid kembali ke kampung kelahiran orang tuanya itu, berbekal pengalaman semasa kuliah di unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang kesenian, ia mencoba menghidupkan kembali kesenian anak nagari. Terhitung semenjak Agustus 2020 ketika ia memulai itu semua, bersama sejumlah orang, ia mengumpulkan kembali anak-anak untuk diajak berlatih kesenian, mulai dari musik hingga tari.

 

Ihsan (15), seorang siswa SMP adalah salah satu anak yang tertarik untuk berlatih. Baginya, bermain musik tradisi menjadi salah satu hiburan dalam mengisi waktu luang. Berbeda dengan anak-anak seusianya di daerah lain, Ihsan bersama anak-anak yang besar di Pagadih tidak begitu akrab dengan games yang ada di gadget atau smastphone. Keterbatasan akses telekomunikasi ke daerah tersebut menjadi salah satu alasan mengapa interaksi sosial secara langsung menjadi hal biasa di Nagari Pagadih.

 

Tidak hanya Ihsan, Azis (9) adalah anak lain yang juga ikut bergabung dalam Sanggar Seni Sarasah Maimbau. Dapat dikatakan ia adalah anggota termuda yang ikut belajar untuk menabuh alat musik tradisi tersebut. Baginya, belajar tambua adalah hiburan dan juga permainan.

 

"Bang, latihan wak lai," ajak Azis kepada Madrid ketika saya baru menginjakkan kaki di nagari Pagadih. Ajakan untuk latihan itu disampaikannya secara berulang-ulang, sampai akhirnya Madrid beranjak dari duduknya.


Bagi Ihsan, Azis dan belasan anak lain, belajar tambua hingga tampil pada berbagai kegiatan di nagari menjadi sebuah prestasi tersendiri. Tidak ada embel-embel finasial di sini, sebab pada setiap penampilan mereka hanya dibayar seadanya, tergantung kemampuan dari pihak yang mengundang.


"Sebagian uang tersebut disimpan sebagai kas, sebagian lainnya dipakai untuk membakar ikan bersama anak-anak sanggar," ujar Madrid.

Penampilan Sanggar Seni Sarah Maimbau (Syahrul R/2020)



*Artikel ini pernah dipublikasikan di halaman cerano.id pada Januari 2021


Continue reading Anak Tambua Nagari Pagadih, dari Gelanggang ke Gelanggang

Friday, September 14, 2018

,

Penenun Songket di Kaki Gunung Singgalang


“Saya belajar menenun secara otodidak, berawal dari melihat ibu yang juga seorang pengrajin songket,” tuturnya.

Puti Centia Wulan,seorang penenun asal Pandai Sikek sedang menyelesaikan sehelai tenunan menggunakan alat tenun berupa rangkaian kayu yang disebut dengan panta

Di tepi hamparan ladang sayuran, pada sebuah rumah, seorang wanita tengah sibuk menyusun benang emas diantara benang-benang lainnya, di atas sebuah rangkaian kayu yang dikenal masyarakat dengan panta.

Hawa dingin menyelimuti Pandai Sikek siang itu, sebuah nagari setingkat desa yang berada di kaki Gunung Singgalang Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Dihadapannya, suri yang merupakan sebutan pengrajin tenun untuk benang yang membentang di sepanjang panta diregangkan dengan sebilah kayu bernama sangka.

Sesekali dentangan kayu terdengar ketika wanita tersebut merapatkan benang emas yang sudah disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah motif.

Puti Centia Wulan, seorang wanita berumur 25 tahun duduk di ujung panta, tangannya meliuk-liuk diantara ratusan benang, di hadapannya lebih kurang sepanjang satu meter songket hampir selesai ditenun.

Semenjak beberapa hari yang lalu ia sudah sibuk mengerjakan sebuah selendang songket dengan ukuran lebar 50 sentimeter dan panjang dua meter.

“Saya belajar menenun secara otodidak, berawal dari melihat ibu yang juga seorang pengrajin songket,” tuturnya.

Menenun menurutnya merupakan keahlian yang biasa dimiliki oleh setiap perempuan di kawasan Pandai Sikek yang telah diwarisi secara turun temurun.

Tanpa melalui pelatihan khusus, Puti yang sudah mulai menenun semenjak tahun 2011 tersebut menyebutkan selama ini ia telah menerima upah untuk menenun dengan bahan disediakan oleh pengusaha songket yang ada di daerah tersebut.

Dari sekian banyak motif Songket Pandai Sikek, menurutnya yang paling rumit untuk dikerjakan adalah motif Pucuak Tari Bali, dikarenakan motifnya yang halus sehingga dituntut ketelitian ekstra saat mengerjakan.

 Penenun sedang mengerjakan tenunan berupa selendang songket

Sembari melanjutkan pekerjaannya, Puti menceritakan dalam satu bulan ia mampu menyelesaikan empat hingga lima helai songket dengan upah yang beragam.

Untuk menyelesaikan sebuah selendang songket bermotif tabur dengan ukuran panjang dua meter dan lebar 50 atau 30 sentimeter, ia menerima upah sebanyak Rp300.000 rupiah  dengan lama pengerjaan selama lima hari.

Apabila selendang tersebut dipenuhi oleh benang emas atau yang biasa dikenal dengan istilah balapak, maka upah per helainya adalah Rp400.000 rupiah.

Sementara untuk songket dengan ukuran lebih besar, maka dapat menghabiskan waktu hingga sepuluh hari. Bahkan untuk songket berbahan sutera bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Puti menambahkan, upah tersebut diterima untuk pengerjaan songket dengan bahan katun, apabila menggunakan bahan sutera maka upahnya bisa mencapai Rp600.000 rupiah.

“Penghasilan sebagai pengrajin songket selama ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta untuk biaya sekolah anak,” ujarnya

Salah seorang pengusaha Songket Pandai Sikek  yang telah merintis usaha semenjak tahun 1985, Erma Yulnita mengatakan, untuk songket yang dipasarkannya, ia memiliki pengrajin sendiri yang saat ini berjumlah lebih kurang 250 orang.

Para pengarajin tersebut merupakan perempuan-perempuan di Nagari Pandai Sikek yang sejak dahulu sudah terkenal sebagai penenun songket.

Karena sudah ada sejak lama, maka motif-motif yang ada pada tenun songket merupakan motif klasik yang begitu identik dengan Minangkabau.

Setidaknya terdapat lebih dari 350 motif klasik, akan tetapi yang sering kali diproduksi adalah motif Itiak Pulang Patang, Saik Ajik, Lapiak Ampek, Pucuak Rabuang, Kunang-kunang dan lain sebagainya.

Salah satu hasil jadi Songket Pandai Sikek

Ia menyebutkan hingga saat ini songket masih memiliki daya tarik bagi wisatawan yang datang berkunjung ke Sumbar, terutama ke Pandai Sikek.

Dari seluruh wisatawan yang berbelanja songket kepadanya, 80 persen diantaranya adalah wisatawan lokal yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain pengunjung yang datang berbelanja langsung, ia juga melayani pesanan ke beberapa daerah seperti Jakarta, Kalimantan, Lampung, Sulawesi serta beberapa daerah lainnya.

Keunikan motif Songket Pandai Sikek menjadi salah satu alasan bagi para wisatawan untuk menjadikannya sebagai cindera mata dari Sumbar.

Tak hanya wisatawan dalam negeri, Erma menuturkan bahkan wisatawan manca negara juga sangat tertarik dengan songket, selain berbelanja ketika berkunjung, ia juga sudah pernah mengirimkan songket ke luar negeri.

Menurutnya, sekalipun tidak serutin pengiriman di dalam negeri, akan tetapi permintaan dari luar negeri tetap ada dan cukup tinggi, seperti dari Amerika, Australia dan Jepang.

Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai dari yang termurah seharga Rp1.500.000 rupiah hingga yang paling mahal seharga Rp15 juta rupiah, tergantung dari bahan yang digunakan.

“Untuk bahan dari sutera maka akan dihargai sebesar Rp15 juta, sementara songket termurah dimulai dari harga Rp1.500.000 rupiah terbuat dengan bahan katun,” katanya.

Sekalipun demikian, kadangkala pihaknya cukup mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan bahan baku, terutama benang emas yang harus didatangkan dari luar negeri, yaitu India dan Jepang.

Apabila kondisi dolar tidak stabil maka Erma akan kesulitan mendapatkan bahan tersebut, sehingga berdampak pada produksi, seperti beberapa waktu lalu sempat terhenti selama satu bulan lantaran ketiadaaan bahan.

Pada pertengahan Ramadhan lalu, ia menyebutkan pasokan benang emas sempat terputus, sementara permintaan songket tinggi, sehingga mau tidak mau produksi tidak dapat dilakukan.


Selain benang emas yang harus didatangkan dari luar negeri, bahan lain yang dibutuhkan adalah katun dan sutera, kedua bahan ini lebih mudah didapatkan karena tersedia di dalam negeri.

Penenun menguntai benang emas sebagai motif diantara benang katun

Selain itu, Puti Centia Wulan mengatakan menenun merupakan keahlian yang harus tetap dipelajari oleh setiap perempuan Minang terutama Pandai Sikek, sebab dengan keahlian tersebut setiap generasi muda dapat ikut melestarikan tradisi.

“Suatu saat nanti pun saya akan mengajarkan anak saya tentang tata cara menenun, sebab keahlian ini sudah dilestarikan secara turun temurun,” tutup Puti seraya menyelesaikan tenunannya.


Artikel ini pernah dimuat pada halaman Antara Sumbar.

Continue reading Penenun Songket di Kaki Gunung Singgalang

Thursday, June 7, 2018

,

Menengok Pengolahan Sagu di Bumi Sikerei

Langit mulai diselimuti mendung ketika pompong yang merupakan sebutan masyarakat Mentawai untuk sebuah sampan kecil berkapasitas tujuh orang membelah Sungai Bat Oinan Puro.

Menyusuri Sungai Bat Oinan Puro

Di kemudi, Nikodemus Sabulukkungan seorang pria paro baya tengah menuju lokasi tempat pengolahan sagu di kawasan Dusun Puro, Desa Muara Siberut Kecamatan Siberut Selatan, Mentawai Sumatera Barat.

Setelah merapat, diantara pepohonan sagu yang menjulang ia mulai menatak sebuah pohon sagu yang sudah tumbang. Dengan sebilah kapak, ia kemudian memisahkan antara kulit dan isi pohon yang sebelumnya sudah dibagi menjadi potongan sepanjang lebih kurang 70 sentimeter.

Gerimis mulai turun ketika ia sibuk mempersiapkan sagu yang yang merupakan makanan pokok masyarakat Mentawai untuk kemudian diparut menggunakan parutan tradisional yang disebut dengan gagaji.

Setelah selesai diparut menggunakan alat tradisonal gagaji, sagu tersebut kemudian dibawa menuju dereat, sebuah alat pengolahan lainnya untuk kemudian dipisahkan antara sari dan ampasnya.

Dereat sendiri terdisi dari beberapa bagian, pada bagian paling atas terdapat sebuah wadah bersegi empat tempat memeras sagu menggunakan air yang disebut dengan  karuk.

Menggunakan timba dengan bahan pelepah sagu, Nikodemus menimba air ke dalam karuk agar sari dari sagu ikut mengalir bersama air menuju ke saringan yang ada di bawahnya.

Tepat di bawah saringan terdapat dedeibu, sebuah wadah berupa sampan kecil menampung cucuran air disertai dengan sari dari parutan sagu yang sebelumnya sudah diperas.

Sembari tetap memeras sagu, ia menuturkan butuh waktu hingga dua jam agar sari pati sagu dapat benar-benar berpisah dengan air perasan, setelahnya barulah didapatkan sagu yang siap untuk dikonsumsi.

Nikodemus Sabulukkungan memisahkan antara kulit dan isi pohon sagu

Proses pemarutan isi pohon sagu mengunakan alat tradisional yang dikenal dengan sebutan gagaji

Mengumpulkan hasil parutan untuk selanjutnya dibawa ke dereat

Proses pemisahan pati dengan ampas sagu

Nikodemus memisahkan antara isi dan ampassagu pada alat pengolahan yang disebut dereat


Sagu tersebut kemudian akan disimpan pada sebuah wadah yang terbuat dari daun sagu berukuran panjang sekitar satu meter, dengan diameter sepanjang 25 sentimeter yang disebut dengan tappri.

Vincent Sabulukkungan yang kala itu ikut membantu Nikodemus mengolah sagu menyebutkan, satu potongan sagu nantinya dapat mengisi penuh tappri untuk keperluan makan selama satu satu bulan bagi sebuah keluarga kecil yang terdiri dari orang tua dan satu anak.

Apabila untuk keperluan sehari-hari maka pekerjaan mengolah sagu akan dilakukan oleh anggota keluarga yang bersangkutan, sementara apabila sagu tersebut akan dipergunakan untuk keperluan upacara adat, maka yang akan bekerja adalah kaum laki-laki dari suku yang bersangkutan.

Menurutnya, selama ini belum pernah ada orang Mentawai yang kelaparan dan kekurangan makanan, sebab segala kebutuhan sudah disediakan oleh alam, seperti sagu yang tumbuh subur dan melimpah ruah di sekitar mereka.

Bukannya tidak pernah memakan nasi, Vincent menambahkan bahwa rata-rata orang Mentawai sudah terbiasa mengkonsumsi sagu, bahkan bagi mereka sagu lebih tahan lama di perut dari pada nasi.

Sementara Nikodemus sibuk mengolah sagu, Agustinus Durai yang juga ikut dalam pengolahan menambahkan, tidak semua sagu dapat diolah, ada batasan-batasan umur tertentu agar sagu dapat ditebang untuk kemudian dijadikan tepung sagu.

Setidaknya sagu harus berumur 17 tahun agar pohonnya benar-benar berisi untuk dapat diolah, sebab pada umumnya batang sagu yang usianya di bawah batasan tersebut belum terlalu berisi dan masih lunak untuk dapat diparut dan diolah.

Ia menuturkan, setelah pohon sagu pada sebuah kawasan mulai berkurang, maka secara otomatis masyarakat akan langsung menanam penggantinya sehinga persedian sagu akan selalu ada untuk menunjang kehidupan masyarakat.

Nikodemus hampir selesai memeras parutan sagu ketika Agustinus menyebutkan bahwa sagu yang sudah diolah dapat bertahan dengan pengawetan alami.

Sagu yang sudah disimpan di dalam tappri dan direndam dalam air dapat bertahan hingga satu tahun, sehingga masyarakat tidak perlu pusing memikirkan persediaan makanan.

Agustinus menekankan bahwa kehidupan masyarakat Mentawai sangat bergantung pada alam, apabila alam mulai rusak dan tumbuhan sagu mulai menipis maka masyarakat akan mulai kesulitan untuk mendapatkan bahan makanan.

Untuk dapat dikonsumsi, sagu yang sudah diolah menjadi tepung harus dimasak terlebih dahulu dan dimasaknya juga memanfaatkan hasil alam.



Memasak Sagu

Seusai mengolah sagu, Nikodemus, Agustinus dan Vincent kembali mengarahkan pompong miliknya kembali menuju Uma Sabulukkungan, Rumah adat khas mentawai kepunyaan suku Sabulukkungan.

Di dapur, tepat pada bagian belakang uma, beberpa orang wanita sibuk menyiapkan beberapa bahan yang akan diolah. Selain sagu, di sekitar perapian atau tungku beberapa batang bambu yang sudah dipotong-potong disandarkan untuk nantinya digunakan sebagai wadah dalam memasak sagu.

Sembari menghaluskan tepung sagu yang akan dimasak, Lidiana Sabulukkungan, wanita yang tepat berumur setengah abad itu menceritakan bahwa hingga saat ini masyarakat Mentawai masih memasak sagu menggunakan cara yang tradisional, yaitu memanggang sagu di dalam bambu.

Setelah mulai halus, Lidia kemudian memasukkan sagu ke dalam potongan-potongan bambu untuk kemudian disangai di sekitar api yang sudah dinyalakannya di dalam tungku.

Tidak kurang dari 15 batang bambu berisi sagu berjejer menghadap api, ketika satu sisi bambu mulai berubah warna, maka Lidia akan segera memutarnya sehingga panas api dapat memasak sagu secara merata. Sagu yang dimasak dengan cara ini disebut dengan sagu kaobbuk,

30 menit berlalu ketika seluruh bagian bambu mulai berubah warna kehitaman yang menandakan sagu mulai masak sempurna, sambil mengganti sagu yang sudah masak tersebut dengan sagu lainnya, ia menyebutkan bahwa sagu tidak hanya dapat diolah dengan cara tesebut.

Sagu kapurut, tidak jauh berbeda dengan sagu kaobbuk, sagu ini tetap dimasak dengan cara dipanggang, akan tetapi tidak lagi menggunakan bambu melainkan daun sagu.

lebih lanjut wanita yang sudah mulai berumur tersebut menjelaskan bahwa dalam memasak sagu api yang digunakan tidak boleh terlalu besar dan juga tidak boleh terlalu kecil.

Jika api yang digunakan terlalu besar maka sagu tidak akan matang dengan sempurna, hanya bagian luarnya saja, sementara bagian dalamnya masih mentah, selain itu jika api yang digunakan terlalu besar sagu juga bisa berubah rasa menjadi pahit.

Tidak terlalu sulit dan tidak terlalu gampang, begitulah Lidia menjelaskan bagaimana cara memasak sagu. Untuk menambah cita rasa, sagu yang dimasak bisa saja ditambah dengan menggunakan parutan kelapa atau gula.

Lidia kemudian mencicipi sagu kapurut yang sudah matang, setelah dua kunyahan dia bergumam bahwa sagu yang sudah masak ini nanti akan lebih nikmat jika dikonsumsi dengan campuran ikan atau pun sayur-sayuran yang diambil dari ladang.

"Kami belum pernah merasa kekurangan bahan makanan, sebab apa yang kami konsumsi sudah disediakan oleh alam," tambahnya sembari melahap sagu yang telah dimasaknya itu.

Lidiana Sabulukkungan menghaluskan sagu sebelum dimasak

Proses pemanggangangan sagu


Artikel ini pernah dimuat pada halaman Antara Sumbar.
Continue reading Menengok Pengolahan Sagu di Bumi Sikerei

Sunday, June 12, 2016

Tradisi Manyiriah di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang

Pola kehidupan masyarakat Minangkabau yang berkelompok semenjak awalnya membawa mereka kepada suatu sistem yang melahirkan pola-pola tersendiri dalam masyarakatnya. Hingga saat ini mereka diatur oleh oleh tatanan adat yang telah mereka anut semenjak dahulu kala. Terdapat beberapa pengklasifikasian adat menurut masyarakat Minangkabau, yaitu: Adat nan sabana adat, Adat nan diadatkan, Adat nan teradat dan Adat istiadat (Sjarifoeddin Tj. A, 476: 2011).
Dari keempat pengklasifikasian di atas, Adat Istiadat merupakan aturan adat yang dibuat dengan kesepakatan Niniak Mamak dalam suatu nagari (Sjarifoeddin Tj. A, 476: 2011). Jadi setiap aturan yang ada dalam suatu nagari belum tentu ada pada nagari lain di Minangkabau. Hal ini tergantung pada peraturan dan kebutuhan dari nagari itu sendiri. Adat Istiadat juga dikenal dengan istilah adat salingka nagari.
Salah satu contoh dari adat istiadat atau adat salingka nagari adalah tradasi manyiriah yang umumnya ada di daerah Luhak Agam. Dalam hal ini penulis melakukan fokus penelitian di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten  Agam. Dalam penelitian ini penulis akan melihat perubahan yang terjadi pada tiap-tiap unsur yang ada dalam tradisi manyiriah sebelum dan setelah tahun 1970-an.

Tradisi Manyiriah
1.      Pengertian.
Jika dikembalikan ke dalam bahasa Indonesia, manyiriah disebut juga dengan menyirih dengan kata dasarnya sirih. Apabila ditambah dengan me- pada bahasa Indonesia ataupun imbuhan ma-  dalam bahasa minang, maka kata benda ini akan berubah menjadi kata kerja. Jadi secara keseluruhan istilah menyirih dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan mengunyah sirih. Tradisi mengunyah sirih sebenarnya merupakan tradisi yang kerap dilakukan oleh segenap kaum wanita dahulunya.
Di Minangkabau, khususnya di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam, manyiriah tidak hanya sebuah kebiasaan wanita. Akan tetapi manyiriah juga merupakan sebuah cara yang digunakan untuk mengundang masyarakat dalam sebuah acara. Dengan kata lain manyiriah merupakan pengganti undangan seperti yang kita kenal pada saat sekarang ini.

2.      Tentang Manyiriah.
Tradisi manyiriah ini digunakan untuk mengundang masyarakat dalam kaegiatan pesta, seperti pesta pernikahan, akikah (mangarek rambuik/turun mandi) serta pada pesta peresmian gelar seorang datuak. Pekerjaan ini dilakukan oleh anak muda yang ada di selingkungan suku yang mengadakan pesta. Dalam penerapannya, salah seorang yang pergi mesti kemenakan dalam suku orang yang memiliki hajat.
Orang-orang yang pergi menyiriah biasa disebut dengan tukang imbau. Mereka akan membawa siriah langkok yang terdiri dari daun sirih, gambir, pinang dan sadah. Benda-benda ini merupakan undangan bagi kaum wanita. Sedangkangkan bagi kaum pria, benda yang dibawa sebagai lambang dari sebuah undangan adalah rokok.
Pada saat mengundang itu tukang imbau tidak hanya sekedar memberikan siriah dan rokok tadi. Akan tetapi ada kata-kata yang mesti diucapkannya, yaitu “kami dilapeh inyiak datuak ......... maimbau apak, ibuk, ipa, bisan, karik, kabia, sarato saisi rumah nanko untuak pai baralek ka rumah etek ............ pado hari ...........” Artinya “kami dilepas oleh inyiak datuak ........... mengundang bapak, ibuk, ipar, besan, karib, kerabat serta seluruh penghuni rumah ini untuk dapat hadir ke rumah ibuk ......... pada hari .........., kata-kata ini diucapkan ketika mengundang kaum perempuan dan laki-laki yang ada di luar suku orang yang punya hajat atau alek.
Terdapat perbedaan dalam memanggil urang sumando dan ipar dari sipangka (orang yang punya hajat). Mereka tidak diundang oleh tukang imbau dengan membawa siriah dan rokok. Akan tetapi untuk orang sumando akan diundang oleh mamak dari sipangka, sedangkan ipar akan diundang oleh etek dari sipangka. Dalam undangan akan dikatakan secara langsung tanpa meninggalkan siriah dan rokok.

3.      Tradisi Manyiriah sebelum tahun 1980-an.
Tradisi manyiriah pada era sebelum tahun 1980-an bisa dikatakan masih kental dengan keasliannya. Hal ini dapat kita lihat dari segi pakaian, benda-benda yang digunakan dan tata cara pelaksanaannya.
a.    Pakaian.
Pakaian yang digunakan oleh laki-laki dalam manyiriah adalah celana dasar, baju kemeja, peci hitam dan sarung yang dillitkan di pundak. Sedangkan untuk wanita menggunakan baju kuruang dengan jilbab. Hal ini menyiratkan islam sudah mengakar dalam tradisi masyarakat, sebagai sebuah keterikatan antara adat dan syarak, seperti mamangan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Hasanuddin, 42: 2013).

b.        Benda-benda yang digunakan.
Dalam manyiriah, untuk wanita tukang imbau membawa siriah langkok yang terdiri dari daun sirih, pinang, sadah dan gambir. Sedangkan untuk pria tukang imbau membawa rokok daun enau yang terdiri dari daun enau dan santo (tembakau). Bagi wanita yang ingin manyiriah (mengunyah sirih) , maka si tukang imbau akan langsung meramukannya untuk nantinya dikunyah oleh orang yang meminta.

c.         Tata cara pelaksanaan.
Pada era sebelum 80-an, orang yang menjadi tukang imbau adalah sepasang laki-laki dan sepasang perempuan. Dalam pelaksanaanya nati, laki-laki hanya bertugas untuk mengundang kaum laki-laki dan kaum perempuan hanya bertugas untuk mengundang kaum perempuan saja. Sebelum berangkat, mereka dilepas oleh orang-orang tua yang ada di rumah sialek tersebut.

4.      Tradisi Manyiriah setelah tahun 1980-an hingga sekarang.
Tradisi manyiriah pada era setelah tahun 1980-an sudah mulai bergeser dari keasliannya. Hal ini dapat kita lihat dari segi pakaian, benda-benda yang digunakan dan tata cara pelaksanaannya.
a.         Pakaian.
Pakaian yang digunakan oleh laki-laki dalam manyiriah pada masa ini adalah menggunakan celana dasar, baju kemeja, peci hitam dan sarung yang dillitkan di pundak. Sedangkan untuk wanita tidak ada lagi yang yang menggunakan baju kuruang mereka telah beralih pada pakaian yang berkembang sesuai dengan zaman, seperti kebaya. Hal ini bisa dimengerti selama tidak melanggar tahap kesopanan.

b.        Benda-benda yang digunakan.
Pada masa ini tetap siriah langkok tetap digunakan, akan tetapi yang ditinggalkan di rumah orang yang diundang tidak lagi sirih yang sudah diramu dengan kawanannya (sadah, pinang dan gambir), yang ditinggalkan hanya selembar sirih sebagai tanda. Untuk kaum pria, pada masa ini tidak lagi menggunakan rokok yang terbuat dari daun enau dan tembakau. Akan tetapi telah beralih kepada rokok kretek yang telah jadi, tanpa harus menggulungnya terlebih dahulu.

c.         Tata cara pelaksanaan.
Pada tahun-tahun setelah masa 80-an hingga sekarang, dari tata cara pelaksanaan manyiriah ada sedikit perubahan. Jika pada masa sebelum tahun 80-an perjalanan antara laki-laki dan perempuan dipisah dalam manyiriah. Maka pada masa ini manyiriah dilakukan secara berpasangan oleh tukang imbau tersebut.

Kesimpulan.
Setidaknya telah terjadi perubahan yang cukup mendasar dalam dalam perantaraan tahun 1980-an pada tradisi manyiriah yang ada di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam. Perubahan itu terjadi dalam aspek gaya berpakaian, benda-benda yang digunakan dalam manyiriah dan tata cara manyiriah dari sendiri. Hal ini dikarenakan perkembangan zaman ke arah yang lebih maju serta fungsi dari beberapa benda yang digunakan untuk manyiriah tersebut.




Daftar Sumber

Buku
Hasanuddin, 2013. Adat dan Syarak Sumber Inspirasi dan Rujukan Dialektika Minangkabau. Padang: PSIKM Unand.
Navis, A. A. 1984. Alam Terkembang Jadi Guru. Jakarta: Grafiti Press.
Sjarifoedin Tj. A, Amir. 2011. Minangkabau dari Dinasti Iskandar Zulkarnain Sampai Tuanku Imam Bonjol. Jakarta: Gria Media Prima. 
Wawancara:
Y. Datuak Tungga -71 tahun (wawancara pada hari rabu 11 Juni 2014)
Sanijar -74 tahun (wawancara pada hari rabu 11 Juni 2014)
Rosmanidar – 68 tahun (wawancara pada hari rabu 11 Juni 2014)

Continue reading Tradisi Manyiriah di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang

Saturday, April 6, 2013

,

Pengaruh Hindu- Buddha Terhadap Kebudayaan Masyarakat Indonesia


Masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia memberikan banyak  pengaruh terhadap kebudayaan yang ada. Setelah masuk dan berkembang selama beberapa abad di Nusantara, yakni lebih kurang 9 abad menjelang masuknya ajaran Islam. Seluruh aspek kebudayaan Hindu dan Buddha telah melekat pada kehidupan sehari-hari masyarakat di Nusantara.
  Masuknya ajaran Islam ke Indonesia sekitar abad ke-13 memberikan perubahan besar terhadap masyarakat Indonesia pada umumnya. Islam adalah sebuah ajaran yang dapat diterima dengan gamblang oleh masyarakat Indonesia pada masa itu. Salah satu penyebab agama Islam dapat diterima dengan mudah adalah karena Islam adalah agama yang tidak mengenal kasta atau tingkatan, sedangkan agama Hindu membagi masyarakatnya menjadi beberapa kasta atau  membedakan antara golongan tinggi (kaya atau memiliki kekuasaan) hingga golongan rendah (budak atau pesuruh).
Ketika agama Islam berkembang di Nusantara, banyak masyarakat yang mayoritas agamanya adalah Hindu atau Budha berpindah agama menjadi Islam. Karena sebelumnya masyarakat Nusantara telah kental dengan ajaran Hindu dan Buddha, maka secara tidak langsung kebudayaan-kebudayaan itu masih melekat dalam kehidupan sehari-hari setelah memeluk agama Islam.
Proses penanaman kebudayaan islam pada masyarakat di Nusantara tidak dapat berjalan secara utuh. Hal ini disebabkan oleh kebudayaan Hindu sudah melekat atau mendarah daging dalam kehidupan mereka. Selanjutnya yang terjadi ialah proses akulturasi budaya, yaitu masuknya suatu kebudayaan tanpa menghilangkan kebudayaan lama. Meskipun tidak semua kebudayaan Hindu yang melekat pada kebudayaan islam, paling tidak ada beberapa kebudayaan Hindu yang masih dilakukan oleh masyarakat islam hingga saat ini. Beberapa kebudayaan itu ialah dalam bidang bahasa dan sastra,  arsitektur bangunan, agama, dan seni
Dalam bidang seni, salah satu kebudayaan Hindu yang ada hingga sekarang ialah wayang yang berasal dari daerah India. Pada masa penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, beliau menggunakan wayang sebagai sarana syiar agama islam.
Pada kebudayaan masyarakat Minangkabau dapat kita ambil beberapa contoh pengaruh kebudayaan Hindu, seperti dalam bidang Bahasa, ritual keagamaan dan arsitektur bangunan. Dalam bidang bahasa dapat kita ambil contoh dari segi pemberian nama kepada anak. Di Minangkabau dahulunya pemberian nama kepada seseorang dihubungkan dengan alam, seperti nama ibu dari Tuanku Nan Renceh ialah Upiak Jilatang. Sejak datangnya pengaruh dari kebudayaan Hindu banyak kita temui nama yang berasal dari Bahasa Sangskerta seperti nama Dewi, Tri, Sinta, Rama dan lain-lain.
Dalam ritual keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat islam saat ini khususnya yang ada di wilayah Minangkabau, ada beberapa yang dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu. Dalam acara kematian saat ini dapat kita saksikan danya peringatan 3 hari, 10 hari, dst. Saat acara selamatan (mando’a) masyarakat membakar kemenyan yang pada masa Hindu digunakan sebagai pengantar seserahan.
Sedangkan di wilayah Jawa sendiri, terdapat beberapa ritual, seperti ritual Gerebeg Maulud yang diadakan setiap tahunnya di Yogyakarta, dan beberapa ritual lain, seperti Kirab yang diadakan sebagai sarana untuk buang sial. Serta ritual penghanyutan beberapa hasil bumi ke lautan atas ucapan rasa syukur dari hasil panen.
Pengaruh lainnya ialah dari segi arsitektur bangunan. Pembangunan atap mesjid yang ada di Minangkabau adalah salah satunya. Konstruksi atap mesjid yang berundak atau bertingkat-tingkat bukan merupakan hasil dari kebuyaan masyarakat Minangkabau sendiri. Hal ini merupakan sebuah proses akulturasi kebudayaan dari Hindu, yaitu proses pencampuran budaya tanpa menghilangkan kebudayaan sebelumnya.
Salah satu dari ciri arsitektur Hindu ialah berundak, yang dapat kita saksikan pada candi-candi yang ada di Indonesia.Arsitektur ini kemudian mempengaruhi pembangunan sesudahnya. Arsitektur semacam ini dapat kita lihat pada pembangunan Mesjid Kudus yang dibangun oleh Ja’far Shadiq atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.
Yang paling unik dan menonjol pada bangunan Mesjid Kudus ialah sebuah menara yang berada di sisi timur bangunan mesjid yang menggunakan arsitektur candi Hindu. Selain bentuk menara, pola arsitektur Hindu juga dapat kita saksikan pada  gerbang atau gapura mesjid dan lokasi wudhu’ yang pancurannya dihiasi ornament khas Hindu.
Dari berbagai pengaruh Hindu di atas bukan berarti masyarakat Islam Indonesia masih mempercayai Agama Hindu sebagai sebuah kepercayaan, akan tetapi itu merupakan sebuah akulturasi budaya yang tak dapat dihapuskan dari kebiasaan masyarakat Indonesia karena sudah mendarah daging. Hal ini dikarenakan kebudayaan Hindu yang sudah berkembang selama lebih kurang sembilan abad di bumi Nusantara.




Continue reading Pengaruh Hindu- Buddha Terhadap Kebudayaan Masyarakat Indonesia